IRONI IDEALISME

ketika wajah-wajah manusia itu terhanyutkan oleh improvisasi dunia yang penuh dengan berbagai intrik-intrik dan tipudaya, ketika itu pula suara Ilahi yang bergema dalam diri mereka tidak lagi memberikan kedamaian, malah sebaliknya akan datangnya sebuah kehancuran sepanjang masa. Meskipun suara hati mereka telah terbesit sebuah perjuangan yang di dasari oleh idealisme ; keimanan,kesalehan, keikhlasan, kedamaian dan sebagainya tertutupi oleh materialisme dunia yang tidak bersahabat.
Sungguh ironis, tatkala bangsa dan Negara yang telah merdeka 64 tahun yang lalu ini dalam perjalanannya banyak menemui kendala-kendala yang paling substansial dikarenakan manusia-manusianya-nya yang tidak lagi memiliki semangat perjuangan yang didasari oleh idealisme. Suatu perjuangan yang sangat diharapkan oleh dua ratus juta manusia lebih. Barangkali itulah sebuah idealisme ketuhanan yang paling substansial yang secara signifikan bisa membawa perubahan yang telah kita cita-citakan bersama. Tanpa itu, terasa sulit bahkan mundur dan jalan di tempat, atau semua hanyalah tinggal nama dan cerita.
Sadar ataupun tidak, mereka lupa bahwa dalam diri mereka terdapat begitu banyak tanggung jawab sebagai amanah untuk bisa diwujudkan secara konkret demi mensejahterahkan rakyat ke depan. Suka maupun tidak suka, bahwa alam semesta menunggu akhlak-akhlak kesalehannya setiap saat untuk dimanifestasikan secara nyata juga untuk membawa perubahan yang berarti bagi bangsa dan Negara ini. Semua itu tinggal menunggu, dengan waktu yang terus bergulir seiring dengan hukum kausalitasnya yang tak pernah bohong.

Amanah-amanah yang telah diberikan kepada penguasa-penguasa di negeri ini, tidak pula terlepas dengan kepakarannya. Sejauh mana kepakaran tersebut bisa memberikan dampak yang signifikan bagi bangsa ini. Hal itu terkait dengan profesionalitas dari wajah-wajah yang ada dalam ranah kekuasaan tadi untuk s di riilkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan sampai ada lagi intrik-intrik yang menyesatkan rakyat ini.
Memang tidaklah muda semua itu untuk diwujudkan tanpa ada kemauan yang sungguh-sungguh yang dibungkus oleh kesadaran spiritual yang maksimal. Karena materialisme yang menghiasi dunia ini sangat sulit untuk ditaklukkan, yang siap memberikan rayuannya yang menghanyutkan, yang siap meluluhkan segala kekuatan idealisme yang ada. Terlebih lagi ketika larut tenggelam dalam euphoria-nya maka yang ada menjadi lengkap menjadi wajah-wajah yang hedonisme.
Begitu banyak yang sudah-sudah kita lihat dan saksikan, mengapa oase-oase itu selalu terluang di Negara ini?
Apakah kitasudah terlalu lupa akan kodrat Ilahi yang telah bersemayam dalam diri kita…?”
Meskipun DIA pasif seketika berubah akan jadi aktif sebagai pertanda akan teguranNya, suatu teguran untuk kembali ke singgasana-Nya.
Mulailah untuk berbenah dan menukik ke dalam diri masing-masing, sebelum semuanya terlambat. Saya yakin, masih ada titik idealisme akan kebenaran di negeri ini, masih terbuka waktu untuk kita luangkan sejenak memberikan peran-Nya. Percayalah, bangsa dan negeri ini akan di rahmati oleh seru sekalian alam. Wallahu walaam Bizshawab !

Related Post: