Berikanlah





Berikan Ruang di Hati untuk Peduli
Jika ada pengemis datang ke rumah Anda, apa yang akan anda lakukan. Memberikan dia uang atau tidak itu hak Anda. Jika ada tetangga ditimpa musibah kebakaran, apa yang muncul dalam benak Anda? Ikut menyelamatkan harta bendanya atau tidak, itu semua hak Anda.
Membantu pengemis atau menolong menyelamatkan mereka yang ditimpa musibah adalah satu pekerjaan yang didorong oleh naluri hati. Tidak ada hukum, pasal, ayat perdata dan pidana manapun yang menjerat kita, seandainya kita tidak menolong orang miskin, kesusahan dan kekurangan. Kita tidak akan kena delik, karena itu terkait dengan sesuatu yang abstrak. Hukum positif tidak mengatur masalah nurani dan hati.
Berbeda dengan agama. Agama punya pengaruh yang luas. Oleh sebab itu agama, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pandangan agama tidak hanya meliputi satu sisi saja. Tetapi agama meliputi seluruh aspek materiil dan non materiil kehidupan manusia. Jika dalam pandangan hukum positif, Anda tidak menolong orang, tidak membantu mereka yang ditimpa musibah, itu hak Anda. Tetapi agama akan memberikan pandangan dan jawaban yang berbeda.
Oleh sebab itu, jika di depan mata kita ada orang yang kesusahan dan miskin maka agamalah yang memvonis hati nurani kita, tergerak untuk mengulurkan tangan. Jika hati kita tidak tergerak, maka agama akan memvonis bahwa Anda orang yang tidak peduli dan tidak punya hati. Sehebat apapun prestasi kita, setinggi apapun kemampuan kita, sekaya apapun hidup kita, namun jika hati kita “mati” (tidak pernah peduli) maka hidup kita diliputi kegelisahan.
Secara nyata, dunia bukan hanya milik kita. Dunia dipenuhi oleh kehidupan beraneka rupa. Manusia yang berbeda warna, suku, ras, sama-sama hidup berdampingan. Setiap kita butuh orang lain, dalam rotasi kehidupannya.
Mustahil jika kita bisa hidup tanpa kepedulian. Karena sifat kepedulian yang berasal dari hati nurani telah menghidupkan manusia dalam suasana persaudaraan dan kemanusiaan. Oleh sebab itu di tengah hiruk pikuk kehidupan, kesibukan kerja dan kesempitan waktu “Berikan Ruang di Hati Untuk Peduli” terhadap saudara-saudara kita yang ditimpa musibah dan bencana.
Hati Ruang Pertarungan Kebajikan dan Kefasikan
“Maka Alllah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya “. (QS Asy Syams : 8-9). Dalam Islam, struktur tubuhnya tidak dikotomi. Antara jiwa dan badan, kedua-duanya terintegrasi. Oleh sebab itu, setiap muslim yang berjalan di muka bumi, sebaiknya memperhatikan setiap sudut kehidupan. Islam tidak mengajarkan egoisme dan skeptisisme. Karena sikap egois, individualistik, dan skeptis adalah sifat-sifat kefasikan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kekuasaan, harta, dan jabatan.
Islam mengajarkan manusia untuk hidup saling tolong-menolong dan bersaudara. Sekalipun dunia berubah, namun sifat kemanusiaannya juga tidak ikut berubah. Oleh sebab itu, perlu rasanya setiap muslim berusaha memenangkan kebajikan dalam ruang pertarungan hati. Kebajikan atau kebaikan harus dipelihara dan dipupuk dalam hati.
Sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. “(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS AL Anfal : 2-3)
Ayat-ayat Allah itu terdiri ayat qauliyah dan kauniyah. Ayat kauniyah adalah ayat yang ada di alam semesta dan kehidupan manusia. Bencana gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, badai tsunami, angin puyuh, adalah ayat-ayat kauniyah, yang selalu mengingatkan kita.
Hanya hati yang bersih dan lapanglah, yang mampu menangkap hikmah dibalik setiap bencana. Sebagaimana pesan ayat di atas, hati yang bersih dan mudah tersentuh (peduli) itu dapat diperoleh dengan upaya menegakkan shalat dan menafkahkan rezekinya kepada sesamanya.

Related Post: